The Miracle of Perhatian


Sepulang kerja tadi setelah uluk salam, my bojo menanyakan kalo aq udah makan atau belum 😍. Dengan pertanyaan yang sederhana😘😘😘 tapi dampaknya sungguh luar biasa. Cukuplah untuk penawar kepenatan aq yang seharian menjadi wonderwoman bagi ketiga jagoanku. Laksana hujan yang turun basahi bumi yang kering kerontang, taman hati jadi berbunga – bunga…

Yach, memang pada dasarnya kebutuhan emosional manusia yang paling mendasar dan paling besar adalah kebutuhan untuk diapresiasi atau diperhatikan. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang paling butuh perhatian. Sebab, dengan diperhatikan ‘ meskipun itu hanya sekedar perasaannya sendiri.’ Secara psikologis manusia akan merasa diakui, dianggap,serta dihargai eksistensinya. Dan tentu saja hal ini akan menyenangkan hatinya. Dan jika hatinya senang, maka akan timbul energi positif berupa semangat untuk melakukan aktifitas yang sedang atau yang akan ia lakukan lakukan.

Perhatian sekecil apapun akan sangat berpengaruh bagi orang lain. Contoh paling sederhana adalah dengan menampakkan wajah yang berseri – seri ketika bertemu dengan seorang kawan. Praktek nya ditambah dengan menarik bibir kekiri 2 cm, dan kekanan 2 cm, selama 7 detik.( Wk wk wk…ahai…pada praktekin semua nie…) Ingat ya…2-2-7

Apalagi kalau diteruskan dengan sapaan yang hangat dan proporsional kepada kawan yang kita temui di jalan misalnya, ia akan merasa diakui dan dihargai eksistensinya. Keberadaan kita. Dalam bahasa Jawa nya ngewongke uwong.  Memanusiakan manusia.

Bisa ditarik kesimpulan bahwa menunjukkan raut wajah yang berseri ketika bertemu seorang kawan adalah implementasi dan praktek sederhana namun mengena dari memberikan sebuah perhatian.

Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam bersabda :

” laa tahqiranna minal ma’ ruufi syai-an walau an talqoo akhooka biwajhin tholqin”.

Secara tafsiriyah, arti hadist tersebut adalah

” janganlah engkau menghina ( meremehkan kan ) untuk mengerjakan kebaikan sekecil apapun, walaupun kebaikan tersebut hanya berupa menampakkan wajah yang berseri-seri ketika bertemu dengan seorang kawan”.

Jadi marilah kita membudayakan memberi perhatian. Jangan hanya suka mencari perhatian. Apalagi di dalam hidup berumah tangga.

 

Wallahu A’lam bish- showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *